“Keputusan Mengeliminir Kebijakan Publik”  (Conclusion dari sebuah harapan besar Bag 3 habis)

“Keputusan Mengeliminir Kebijakan Publik” (Conclusion dari sebuah harapan besar Bag 3 habis)

OPINI No Comments on “Keputusan Mengeliminir Kebijakan Publik” (Conclusion dari sebuah harapan besar Bag 3 habis)

“Keputusan Mengeliminir Kebijakan Publik”

(Conclusion dari sebuah harapan besar Bag 3 habis)

Oleh: Juniar Ilham

Pijakan Keputusan

Tahun ini bagi planner benar-benar tahun penuh emosi, bagaimana tidak seakan semua telunjuk mengarah kesatu titik.

Dari yng tidak paham bagaimana sebuah kebijakan publik sampai menjadi peraturan perundang undangan mengikat sampai tingkatan kementrian bahkan kebijakan dinegara yang kita cintai ini.

Baiklah dibagian pertama terlihat tulisan yng belum “berdamai” dgn keadaan, pada sebagian orang belum bisa menerima alasan kuat kenapa produk tata ruang justru digeret kearah penjustifikasian bahwa produk taru itu dianggap menghambat pembangunan, produk taru itu tidak cukup mampu dipakai oleh sektor, produk taru hanya berandai andai ditataran indikasi dengan mimpi-mimpi yang tidak jelas arah keberlanjutanya!

Berlomba-lomba K/L membuat penjustifikasian baca pembenaran dgn membuat masterplan baca rencana induk sektornya sendiri-sendiri. Hal itu sudah berlangsung sejak dulu. Sampai pada sebuah penjustifikasian pendekatan pembangunan dgn lbh mengedepankan infrastruktur.

Ujungnya banyak aturan tumpang tindih kepentingan. Taru vs Ekonomi, Taru vs kehutanan, taru vs pertanian, taru vs pertambangan, taru vs kelautan dst…

Apa yng sebenarnya terjadi?

Mau dibawa kemana sebenarnya perubahan besar yng terjadi ini yng sebagian planner masih harus bangun dari tidurnya 3x bahkan lebih untuk mencernanya. Tatanan yng sudah dibangun selama ini terbangun menuju keberlanjutan.

Pemerintah harus hadir dalam kondisi ini. Kementrian yng membidangi harus memberikan opini “mengingatkan” supaya tidak menjadi preseden tidak baik dikemudian hari. Anggapan kita selama ini membangun taru berkelanjutan seakan berhenti sejenak dalam ketidakpastian. Upaya dalam tahapan aturan perundang undangan mengarah pada program jangka panjang seperti terhenti.

Semangat menyelesaikan produk taru dalam tatanan makro dgn target dan upaya “berdarah darah” dari upaya daerah seperti hanya formalitas, apalagi dgn keluarnya SK Menko yng tdk lebih tinggi dari Perda “mengguntingnya” di persimpangan dgn alasan menghalangi investasi daerah.

Kita tahu semua strata taru, dijaga keberlanjutannya mulai tingkatan nasional sampai daerah. Sudah barang tentu upaya menjaga keselarasan kepentingan makro, mezo dan mikronya juga saling menjaga. Prosesnyapun mulai tingkatan daerah melalu BKPRD sampai ke BKPRN sebagai upaya pengendalian. Upaya tersebut sangat efektif sehubungan peran sentral BKPRD sampai BKPRD. Upaya menyaring sebagai pertahanan terakhir mengawal produk taru agar “baik” hasilnya, mulai tahapan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfatannya. Sebuah upaya yng kongkrit dan jelas alurnya serta dilindungi oleh aturan perundang undangan.

Lalu sekarang kenapa seakan lembaga tersebut tidak hadir disaat diperlukan, justru Menko Ekonomi sekaligus sebagai Ketua BKPRN membuat keputusan yang “mengharuskan” daerah untuk melakukan evaluasi produk taru yng “barusaja” disahkan sebagai Perda dgn proses yng panjang. Apalagi tersebar khabar bahwa lembaga tersebut akan dibubarkan.

Maksudnya apa dengan semua ini, kemana BKPRN?

Kenapa seakan semua mengamini hal yng seharusnya lbh bisa terintegrasi, jika ada perubahan melalui aturan formal sampai tingkatan aturan pelaksanaannya, tidak hanya diintervensi dgn aturan yng belum siap aturan pelaksanaanya di daerah.

Upaya-upaya

Saya yakin pelaku perencana, pemanfaatan dan pengendalian pembangunan banyak meradang karena seakan dibuntungi tugas dan kewenangannya. Memaksakan aturan yng belum ada aturan pelaksanaannya, memaksa daerah menerimanya dgn resiko beratnya pelimpahan yang diterima.

Kalau kita coba cari jalan tengahnya, usulan upaya yang harus diambil dlm jangka pendek dan panjang :

  1. Buat dan revisi aturan pelaksanaan terhadap perubahan yang terjadi, jika memungkinkan revisi UU Taru sebagai payungnya. Sehingga keutamaan dan batasan produk taru benar2 mengakomodasi seluruh kepentingan sektor.
  2. Produk taru mempunyai tahapan sinkronisasi dgn perencanaan pembangunan sehingga tdk lagi diraba raba lagi keberlanjutannya.
  3. Determinasi taru dalam penentuan program prioritas dan kegiatan prioritas yng ditindaklanjuti oleh program dan kegiatan K/L semua atas pertimbangan Taru. Sehingga program dan kegiatan prioritas dapat berjalan berkesinambungan siapapun pemimpinnya nanti
  4. Merubah posisi stakeholder menjadi shareholder agar berkelanjutan dan masyarakat ikut menjaganya
  5. Aktifkan polisi Taru baca PPNS tidak hanya sekedar formalitas program dgn kewenangan yng sesuai dgn fungsinya
  6. Aktifkan kembali dan kembalikan kewenangan proses penentuan kompetensi planner kepada asosiasi planner yng lebih memberikan pembinaan berjenjang dgn tanggungjawab kompetensi menghadapi persaingan global.
  7. Hilangkan ego sektor, dukung pemerintah dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan tanpa mempertentangkannya dgn kepentingan lain yng kontraproduktif apalagi dengan Taru

Asosiasi planner baca IAP dan para planner senior mempunyai tugas moril lebih berat untuk merangkul young planner untuk menyampaikan hal-hal prinsip diatas sehingga tercipta pemahaman yng sama dengan dukungan pemerintah baca dirjend penataan ruang untuk berjalan bersama menjawab banyak pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab atas ketidak pastian ini. Dan tidak lagi banyak opini, mau dibawa kemana Taru kita.

Kenapa begitu pentingnya posisi Young Planner, mereka masa depan kita yang harus sangat militan terhadap bidang Taru, mengawal tahapan merencanakan, memanfaatkan dan mengendalikannya. Mereka harus paham betul bagaimana membawa Taru dimasa yang akan datang tanpa terjerat kepentingan praktis jangka pendek apalagi terbawa arus yang membawanya hanya ke zona nyaman.

Ingat, tidak akan pernah ada planner yang benar-benar planner yang hanya berjuang di zona nyaman. Inilah saat yng baik untuk lebih mengembangkan kemampuan kita bagaimana seorang planner di zona tidak nyaman sekalipun.

Selamat berjuang

Semoga…

Author

Related Articles

Leave a comment

Back to Top