Diskusi Bedah Tata Ruang

Di seluruh Indonesia, tercatat 5.590 sungai induk dan 600 di antaranya berpotensi menimbulkan banjir. Daerah rawan banjir yang dicakup sungai-sungai induk ini mencapai 1,4 juta hektar. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, banjir yang melanda daerah-daerah rawan, pada dasarnya disebabkan tiga hal. Pertama, kegiatan manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan tata ruang dan berdampak pada perubahan alam. Kedua, peristiwa alam seperti curah hujan sangat tinggi, kenaikan permukaan air laut, badai, dan sebagainya.1 Ketiga, degradasi lingkungan seperti hilangnya tumbuhan penutup tanah pada catchment area, pendangkalan sungai akibat sedimentasi, penyempitan alur sungai dan sebagainya.

Banjir bukan hanya menyebabkan sawah tergenang sehingga tidak dapat dipanen dan meluluhlantakkan perumahan dan permukiman, tetapi juga merusak fasilitas pelayanan sosial ekonomi masyarakat dan prasarana publik, bahkan menelan korban jiwa. Kerugian semakin besar jika kegiatan ekonomi dan pemerintahan terganggunya, bahkan terhentinya. Meskipun partisipasi masyarakat dalam rangka penanggulangan banjir sangat nyata. terutama pada aktivitas tanggap darurat, namun banjir menyebabkan tambahan beban keuangan negara, terutama untuk merehabilitasi dan memulihkan fungsi parasana publik yang rusak.

Terjadinya serangkaian banjir dalam waktu relatif pendek dan terulang tiap tahun, menuntut upaya lebih besar mengantisipasinya, sehingga kerugian dapat diminimalkan. Berbagai upaya pemerintah yang bersifat struktural (structural approach), ternyata belum sepenuhnya mampu menanggulangi masalah banjir di Indonesia. Penanggulangan banjir, selama ini lebih terfokus pada penyediaan bangunan fisik pengendali banjir untuk mengurangi dampak bencana. Selain itu, meskipun kebijakan non fisik –yang umumnya mencakup partisipasi masyarakat– dalam penanggulangan banjir sudah dibuat, namun belum diimplementasikan secara baik, bahkan tidak sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga efektifitasnya dipertanyakan.

Banjir kilat/dadakan biasanya didefinisikan sebagai banjir yang terjadi hanya dalam waktu kurang dari 5 jam sesudah hujan lebat mulai turun. Biasanya juga dihubungkan dengan banyaknya awan kumulus yang menggumpal di angkasa, kilat atau petir yang keras, badai tropis atau cuaca dingin (Seta, 1991). Karena banjir ini sangat cepat datangnya, peringatan bahaya kepada penduduk sekitar tempat itu harus dengan segera dimulai upaya penyelamatan dan persiapan penanggulangan dampak-dampaknya. Umumnya banjir dadakan akibat meluapnya air hujan yang sangat deras, khususnya bila tanah bantaran sungai rapuh dan tak mampu menahan cukup banyak air. Penyebab lain adalah kegagalan bendungan/tanggul menahan volume air (debit) yang meningkat, perubahan suhu menyebabkan berubahnya elevasi air laut, dan atau berbagai perubahan besar lainnya di hulu sungai termasuk perubahan fungsi lahan (Arsyad, 1989). Saat ini yang menjadi isu publik adalah pengubahan lahan, kepadatan pemukiman penyebab tertutupnya lahan, erosi dan sedimentasi yang terjadi diberbagai kawasan perkotaan dan daerah. Kerawanan terhadap banjir dadakan akan meningkat bila wilayah itu merupakan lereng curam, sungai dangkal dan pertambahan volume air jauh lebih besar daripada yang tertampung (Suripin, 2001).

Data sejarah banjir luapan sungai yang melanda kota-kota di lembah utama membuktikan bahwa tindakan-tindakan perlindungan tidak bisa diandalkan, akibat beraneka-ragamnya sumber banjir, yang bukan hanya dari induk sungai melainkan juga dari anak anak sungai (Mulyanto, 2007). Permasalahan pengelolaan sumberdaya air dan lahan sangat terkait dengan tingkat pemenuhan kebutuhan, keberadaan kualitas dan kuantitas luasannya dan siklus penggunaannya serta bagaimana pengelolaannya, termasuk dalam pendekatan pencegahan dan penanggulangan banjir.

Dalam sebulan terakhir, Kota Malang diguyur hujan yang cukup lebat. Berdasarkan berita yang dikutip dari harian kompas, di tanggal 28 Maret terjadi hujan deras yang berakibat adanya 17 titik banjir yang melanda di Kota Malang yaitu di Jalan A Yani, Jalan Letjen S Parman, Jalan Bantaran, Jalan Letjen Sutoyo, Jalan Sulfat, Jalan Mawar gang IV, Jalan Candi Kalasan, Jalan A Yani Carefour dan Jalan Industri Barat RT 7 RW 6. Selain itu, banjir juga terpantau di Jalan Borobudur RT 3 RW 8, Jalan Plaosan Gang II (Sidomolyu Samaan), Jalan Bungur, Jalan Veteran (Malang Town Square), Jalan Soekarno Hatta, Jalan Pekalongan, Jalan Simpang Setaman serta Jalan Selorejo. Saluran drainase di salah satu ruas jalan Kedawung gang 1 RT 1 RW 5 Kelurahan Purutrejo, Kota Malang, naik setinggi 160 centimeter dari permukaan trotoar. Air itu melintasi tembok pengamanan setinggi 140 centimeter. Salah satu penyebab terjadinya banjir di Kota Malang adalah adanya tumpukan sampah yang menyumbat gorong-gorong paska terjadinya banjir yang melanda sejumlah titik tersebut karena kelalaian warga yang masih membuang sampah secara sembarangan.

Dari permasalahan yang ada tersebut perlu diadakannya sebuah diskusi terkait permasalahan banjir yang terjadi di Kota Malang yang dibahas dari berbagai sisi baik dari segi infrastruktur maupun tata ruangnya yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi maupun asosiasi profesi dan juga masyarakat. Harapannya dengan adanya diskusi ini dapat menghasilkan kesepahaman persepsi mengenai banjir dan permasalahannya sehingga dapat menciptakan rekomendasi ataupun solusi terkait permasalahan tersebut.

TUJUAN DAN MANFAAT KEGIATAN 

Tujuan Kegiatan: 

Forum diskusi bedah tata ruang ini diadakan dengan tujuan selain untuk menyamakan persepsi terkait studi kasus Banjir dan Genangan di Kota Malang, dihasilkannya pula rekomendasi kebijakan untuk meminimalisir terjadinya banjir dan pengendalian dampak banjir yang akan datang.

Manfaat kegiatan 

Manfaat dari kegiatan diskusi bedah tata ruang ini antara lain berupa:

  1. Ajang berbagi informasi diantara anggota IAP Jatim dan sekaligus memberi pemahaman terkait studi kasus .
  2. Memberikan konstribusi pemikiran utamanya bagi Pemerintah Kota Malang pada 

khususnya dan bagi pengembangan kota di Indonesia pada umumnya 

NARASUMBER  

Narasumber yang akan menjadi pembicara dalam kegiatan diskusi bedah tata ruang ini antara lain:

  1. Nara sumber: Barenlitbang Kota Malang dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Malang yang akan memaparkan mengenai strategi dan kebijakan Kota Malang menghadapi permasalahan banjir dan genangan di kawasan perkotaan
  2. Panelis 1: Ir. Laksni Sedyowati, MS. Ahli Lingkungan dan Drainase Perkotaan yang akan memaparkan mengenai rekayasa kota bebas banjir dan genangan.
  3. Panelis 2: Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT.. Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota yang akan memaparkan mengenai perencanaan perencanaan dan pengendalian tata ruang menuju kota bebas banjir dan genangan. 

PELAKSANAAN KEGIATAN 

Kegiatan diskusi bedah tata ruang ini akan diadakan pada:

Hari                       : Tanggal 27 April

Pukul                    ; 08.00 – 14.00

Tempat                : Gedung Pasca Sarjana Universitas Merdeka Malang (UNMER)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *