Balikpapan Kota Paling Layak Huni di Indonesia

Balikpapan Kota Paling Layak Huni di Indonesia

Berita Tata Ruang No Comments on Balikpapan Kota Paling Layak Huni di Indonesia

Balikpapan Kota Paling Layak Huni di Indonesia

 

Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia merilis indeks layak huni sejumlah kota besar di Indonesia atau Indonesia Most Liveable City Index (MLCI) 2014 saat Kongres Dunia ke-24 Eastern Regional Organization for Planning and Human Settlement (EAROPH) 10-13 Agustus 2014 di Hotel Borobudur Jakarta. IAP melakukan survei kepada warga di 17 kota di Indonesia mengenai persepsi mereka terhadap kenyamanan sebuah kota. Terdapat 30 kriteria yang digunakan untuk mengukur kualitas kenyamanan kota yang secara garis besar meliputi penataan ruang, kondisi ekonomi, transportasi, kebersihan lingkungan, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, jaringan layanan prasarana perkotaan, keamanan, kehidupan sosial dan budaya. Hasil survei menunjukkan bahwa Kota Balikpapan dipersepsikan sebagai kota paling layak huni oleh warganya dengan nilai 71,12 dimana rata-rata Nasional sebesar 63,62.

Kota layak huni menggambarkan sebuah kota dengan lingkungan dan atmosfer yang nyaman untuk ditinggali dan bekerja yang dilihat dari berbagai aspek, baik fisik maupun non fisik (www.earoph.info). Prinsipnya adalah ketersediaan kebutuhan dasar, fasilitas public, ruang terbuka untuk interaksi sosial, keamanan, dukungan fungsi ekonomi sosial, dan sanitasi. Hasil MLCI ini diharapkan sebagai identifikasi awal tentang tingkat kenyamanan suatu kota berdasarkan persepsi warganya yang selanjutnya dapat ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan di kota tersebut.

Kota Balikpapan merupakan kota yang paling besar di Provinsi Kalimantan Timur dengan industri pengolahan minyak dan gas serta jasa sebagai penggerak utama perekonomiannya. Kegiatan jasa berkembang karena lokasi kota yang strategis, menjadikan Bandara Sepinggan menjadi salah satu bandara tersibuk di Indonesia Timur, terutama sebagai kota transit baik untuk melanjutkan penerbangan ke Indonesia bagian Timur atau ke wilayah lain di Provinsi Kalimantan Timur sendiri. Sementara itu, kegiatan perminyakan di Balikpapan sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda yang merupakan cikal bakal perkembangan kota. Semakin berkembangnya aktivitas pengeboran minyak membuat semakin banyak pekerja perminyakan yang datang dan selanjutnya mengundang profesi-profesi lain untuk datang dan menetap, seperti pedagang, pengusaha, dll. Selanjutnya Kota Balikpapan semakin berkembang dengan dibangunnya bandar udara internasional, pelabuhan dan hotel.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Kota Balikpapan mencapai 559.196 jiwa dan mencapai 639.150 pada tahun 2012. Mengacu kepada data dari Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Balikpapan tahun 2012, migrasi yang terjadi di Kota Balikpapan sangat tinggi, antara tahun 2003 hingnga 2012, jumlah pendatang tercatat 170 ribu jiwa lebih, mencapai angka tertinggi pada tahun 2012 yakni sebanyak 21.486 jiwa. Kegiatan perekonomian yang semakin berkembang membuat Balikpapan memiliki daya tarik yang semakin tinggi bagi para pendatang yang ditunjukkan dengan angka migrasi tinggi tersebut. Namun, hiruk pikuk aktivitas perkotaan yang berlangsung di Kota Balikpapan tetap membuat nyaman warganya. Lingkungan perkotaan masih terjaga baik, salah satunya ketersediaan ruang terbuka hijau yang cukup besar (di atas 30%).

Jika disandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, Balikpapan termasuk ke dalam kelompok small middleweights city (kota menengah dengan jumlah penduduk 150.000 – 2 juta jiwa). Kelompok kota yang lebih besar, mid-sized middleweights city (kota menengah dengan jumlah penduduk 2 – 5 juta jiwa) dihuni oleh Kota Surabaya, Bandung, Bekasi dan Medan. Melihat lagi hasil survey MLCI IAP, kota-kota dengan jumlah penduduk besar, Jakarta dan mid-sized middleweights city kecuali bandung dan Bekasi, memiliki nilai index liveable city di bawah rata-rata nasional. Kota Jakarta berada pada urutan ke 9 dengan nilai 62, 14, Surabaya berada di urutan 10 dengan nilai 61,7, dan Medan berada di urutan terakhir (urutan 17) dengan nilai 58,55.

Livability Index Kota-kota di Indonesia Tahun 2014

kota

Sumber : Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia, 2014

Hasil survey ini menunjukkan kecenderungan yang perlu mendapat perhatian lebih jauh, yakni semakin besar jumlah penduduk atau semakin berkembang kegiatan suatu kota, kenyamanannya semakin berkurang. Hasil ini juga merupakan potret cepat bagi pemerintah kota, baik kota yang dinobatkan memiliki tingkat kenyamanan rendah maupun tingkat kenyamanan tinggi. Tentu saja bagi kota dengan tingkat kenyamanan rendah harus berusaha memperbaiki kondisi lingkungan perkotaannya sementara kota yang sudah dinobatkan memiliki tingkat kenyamanan tinggi harus mampu mempertahankan dan meningkatkan kondisi tersebut. Begitu juga dengan Kota Balikpapan, melihat trend perkembangannya, baik dari sisi aktivitas ekonomi maupun pertumbuhan jumlah penduduknya yang terus meningkat, harus mulai dipikirkanlangkah langkah antisipatif untuk mempertahankan lingkungan kota agar tetap nyaman untuk warganya.

Referensi :

Kongres Dunia ke-24 Eastern Regional Organization for Planning and Human Settlement (EAROPH) 10-13 Agustus 2014. Jakarta.

Muttaqin, Dhani. 2014. Artikel dalam Newsletter Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia “ Menyambut Kebangkitan Kota Menengah di Indonesia

OLEH : Ni Luh Kitty K

Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Sumber Disini

Author

Related Articles

Leave a comment

Back to Top